“Saceundeung Kaen” yang terdapat dalam naskah kuno Bujangga
Manik, isi naskah baris 36). Kalimat yang tertulis di atas merupakan sebuah
penggalan yang terdapat dalam naskah kuno Bujangga Manik yang menceritakan
perjalanan Prabu Jaya Pakuan, seorang Raja Pakuan Pajajaran yang memilih hidupnya
sebagai Resi. Naskah diperkirakan ditulis sekitar abad ke-14. Isi naskah
terdiri atas 29 lembar daun Nipah yang masing-masing berisi 56 baris kalimat,
terdiri atas 8 suku kata.
Pemakaian Iket
“Saceundeung Kaen” mengandung arti selembar kain yang
sering digunakan sebagai penutup kepala. Di tatar Sunda biasa disebut juga totopong,
iket, atau udeng. Pemakaian iket berkaitan dengan kegiatan sehari-hari ataupun
ketika ada acara kegiatan resmi seperti upacara adat dan musyawarah adat. Tidak
ada bukti tertulis mengenai sumber sejarah tentang penamaan iket atau yang
sekarang disebut rupa iket. Akan tetapi, dalam perkembangan zaman, penamaan
untuk rupa iket menjadi bagian dari kebudayaan yang mengandung nilai dan makna tersendiri.
Kategori Iket
Buhun Dan Kiwari
Penamaan atau rupa iket dikategorikan sesuai zamannya,
yaitu iket buhun (kuno) dan iket kiwari (sekarang). Untuk iket buhun sendiri
ada yang berupa bentuk iket yang telah menjadi warisan secara turun-temurun
dari para leluhur, ada pula rupa iket yang lahir dari kampung adat. Sementara
itu, untuk iket kiwari, iket tersebut merupakan rekaan dari beberapa orang yang
memiliki rasa kebanggaan sebagai bentuk kreatifitas terhadap budaya iket buhun
dan kreativitas dari nilai kearifan lokal.
Dalam rupaan iket, di dalamnya terkandung filosofi. Hal
inilah yang membuat iket itu sendiri menjadi salah satu warisan leluhur yang
mengandung nilai yang begitu tinggi adanya. Seperti filosofi yang terkandung
dalam rupa iket Julang Ngapak yang konon dahulunya dipakai khusus oleh para Pandita
kerajaan atau disebut Purahita. Filosofi yang terkandung berdasar kepada laku
hidup seekor burung Julang (Sundanese Wrinkled
Hornbill). Tipe burung ini sebelum mereka mendapatkan sumber air tersebut,
mereka tidak akan berhenti mencari. Karakter inilah yang diadopsikan menjadi
simbol Julang Ngapak, yaitu bahwa kita jangan pernah lelah mencari sumber
kehidupan (ilmu, darma, dan jatidiri) sebelum mencapai hasil yang diinginkan.
Awal Mulai Dikenal
Iket atau Totopong (ikat kepala) itu sendiri mulai
dikenal sekitar tahun 1450 Masehi atau pada masa Kerajaan Pajajaran. Awalnya,
totopong dikenakan untuk melindungi kepala dari panas terik dan sebagai
identitas diri. Pada masa perang kemerdekaan, totopong digunakan sebagai
identitas para pejuang. Pada era itu pula, totopong menjadi simbol perlawanan
terhadap penjajahan. Totopong juga menjadi simbol pemersatu dan pengobar
semangat orang Sunda kala itu.
Corak Iket
Totopong merupakan ikat kepala terbuat dari kain polos
atau kain batik. Ukuran kain pada umumnya kurang lebih sekitar 1 meter persegi.
Khusus totopong, memiliki ukuran setengah meter dan bentuk kain terbelah tengah
secara diagonal atau sering disebut setengah iket. Totopong biasanya memiliki
motif batik khusus, misalnya batik Kangkung, Kumeli, Sida Mukti, Kawung Ece, Seumat
Sahurun, Gjringsing, Manyingnyong, Katuncar Mawur, Kalangkang Ayakan, Porod, Eurih.
Sebagai masyarakat agraris, para leluhur Sunda memanfaatkan totopong sebagai
pelindung dari sengatan matahari dan gangguan hewan saat bekerja di sawah.
Beberapa Nama Iket:
Fungsi iket/totopong sebagai simbol identitas diri dilihat
dari pola mengikatnya. Bentuk ikatan totopong menunjukkan status sosial, cara
mengikat totopong antara bangsawan dan rakyat berbeda. Setidaknya ada 22 atau
lebih cara mengikat totopong di kepala. Beberapa model ikat misalnya yang
paling sederhana, Perengkos Nangka. Biasanya dipakai oleh orang tua yang sedang
tergesa-gesa, jadi cukup dibelitkan di kepala. Kalangan jawara atau jagoan,
lain lagi ikat kepalanya, yaitu mereka menggunakan model Barangbang Semplak
atau Kuda Ngencar.
1. Barangbang Semplak : Iket ini seperti
barangbang (dahan kering) yang patah tapi masih nempel dipohon. Culannya hampir
menutupimata. Bagian atasnya terbuka (terlihat rambut).Bisanyaiket model ini
duludipakai oleh para jawara.
2. Julang ngapak : Bentuk iket ini seperti
sayap burung terbang.Dipakai oleh para orang tua.
3. Kekeongan : (di Banten disebut borongsong
keong), bentuknya mirip seperti keong.
4. Kuda ngencar : Iket yangculanya
dibelakang, ngampleh(tergerai) ke bawah. begitu mau ke bagian ujung (melengkung)naiklagi
ke atas.
5. Maung Heuay : Bentuk iket ini seperti
mulut harimau yang sedang nganga (terbuka).
6. Parekos Nangka : Bentukiket ini sangat
sederhana (basajan). Biasanya dipakai oleh orang yang sedang tergesa-gesa.
7. Porteng : Iket yang culanya berdiri di
depan, dan ujung-ujung kainnya digulung ke belakang.
8. Talingkup : Iket yang culanya didahi
sampai menutupi mata. Talingkup artinya bisa menutupi.
Iket Menyimbolkan
:
1.
Syahadat
2.
Sholat
3.
Zakat
4.
Puasa
5.
Naik Haji (bagi yang mampu)
Lalu dilipat menjadi segitiga yang menyimbolkan :
1.
Alif
2.
Lam
3.
Mim
Kalau di satukan dan dibaca jadi Alam. Kenapa Alam? Padahal
bisa saja Ilmi, Ilmu, Ulum atau Alim? tidak akan ada Ilmi, Ilmu, Ulum dan Alim
kalau tidak ada Alam. Alam yang mana? Alam yang sudah dan sedang akan terjadi, yang
diciptakan oleh Allah SWT. Yang dilakoni/dihuni oleh Nabi Adam AS beserta
keturunannya, yang diakhiri oleh Rosulullah SAW.
Lipat dalam beberapa lipatan yang rapih, sedangkan besar
kecilnya lipatan menyesuaikan besarnya pipi menyimbolkan: Tartib (mendahulukan
yang memang harus didahulukan, mengakhirkan yang harus diakhirkan) semua
pekerjaan harus dilakukan secara dewasa dan sesuai kemampuan. Lalu diikatkan ke
kepala, agar kita Ingat:
1.
Dari Mana
2.
Lagi Dimana
3.
Mau Kemana
Sebagai Kekayaan
Budaya
Iket merupakan kekayaan budaya tutup kepala tatar Pasundan.
Selain iket, urang Sunda mengenal beragam tutup kepala lainnya: Mahkota, Tudung/Cetok,
Dudukuy, Kerepus/Kopiah, Peci, Topi, dll. Tapi, yang masih erat dan langgeng
dipakai dalam keseharian sampai sekarang khususnya yang terdapat di masyarakat
adat (Baduy, Ciptagelar, Kampung Naga, dll) adalah Iket.
Menurut Ralph L.
Beals dan HarryHaijer dalam bukunya An
Introduction to Antropology, tutup kepala merupakan bagian kelengkapan
busana suatu kelompok, yang bahan dan modelnya sangat besar dipengaruhi oléh
lingkungan dan budaya yang mempunyai fungsi praktis, estetis, dan simbolis.
Fungsi Praktis,
Estetis Dan Simbolis
Fungsi praktis merupakan alat penutup dari panas, hujan,
benda yang membahayakan, serta pembungkus barang dan makanan. Fungsi estetis
sebagai aksesoris (life style). Sedangkan fungsi simbolis merupakan ciri untuk
membedakan identitas dengan suku lain, serta terkandung nilai-nilai luhur
kajembaran palsafah hidup.
Bukti Peninggalan
Sejarah
Bukti masyarakat Sunda erat dengan tutup kepala yaitu
adanya mahkota Binokasih peninggalan Kerajaan Pajajaran, yang kemudian
diwariskeun kepada Kerajaan Sumedang Larang (sekarang menjadi koléksi Museum
Geusan Ulun, Sumedang). Sedangkan iket terdapat pada arca megalitik di
Cikapundung (sekarang daerah Kebun Binatang, Bandung), yang bentuknya
menyerupai kepala memakai iket.
Sebagai Stratasosial
Dalam kehidupan masyarakat Sunda bihari/dulu, kelengkapan
busana, termasuk iket, merupakan pembeda antara golongan ménak/bangsawan dan
cacah/rakyat biasa. Khusus untuk iket, yang membedakannya adalah bahan, corak/
motif, dan beulitan/rupa iket. Golongan ménak menggunakan bahan kain batik
halus dengan motif tertentu seperti Réréng dan Gambir Saketi yang menunjukkan
stratasosial tinggi (feodalis). Sedangkan golongan cacah biasanya menggunakan
kain batik sisian/batik kasar dan polos hitam (iket wulung).
Falsafah
Secara filosofis, iket berasal dari kata saiket/satu
ikatan, artinya sauyunan dalam satu kesatuan hidup. Ibarat lidi, jika sehelai
tidak mempunyai fungsi, tapi jika dibentuk menjadi satu ikatan sapu, maka akan
mampu membersihkan apa pun. Begitu pula manusia berlaku individual, tentu berat
menghadapi suatu masalah. Lain ceritanya jika dilakukan bersama. Iket juga
menandakan agar pemakainya tidak ingkah (lepas) dari jati diri Kasundaan.
Kepala merupakan subjek yang diikatnya, dan persoalan
yang datang dari luar dan dalam dirinya merupakan objek yang harus dihadapi.
Agar hidup senantiasa Caringcing pegeuh
kancing, Saringset pageuh iket (siap menghadapi segala kondisi dan
situasi).
Bagi urang Sunda, penghargaan terhadap kepala begitu
luhur karena fungsinya sangat vital bagi kehidupan. Kata pamali merupakan
larangan keras jika seseorang memukul atau menepuk kepala orang lain sekalipun.
Hal tersebut bisa ditemukan dalam berbagai istilah keseharian seperti;
1.
Huluwotan (mata air)
2.
Hulubalang (pengawal raja)
3.
Panghulu (penghulu)
4.
Gedé hulu (sombong)
5.
Asa Dicabakhulu (merasa dipermainkan)
6.
Teu Puguh Hulu Buntutna (tidak jelas urusannya)
7.
Nepi ka nyanghulu ngalér (sampai mati), dsb.
Bentuk Dan Bagian Iket
Bagian dalam iket dibagi menjadi empat bagian, yaitu:
1.
Pager:
Motif yang ada di sekeliling iket.
2.
Modang:
Bentuk kotak pada bagian tengah iket.
3.
Waruga:
Bagian tengah iket yang polos.
4.
Juru:
Motif yang ada di setiap sudut iket.
Ada dua bagian, yaitu persegi dan segitiga. Sebernarnya
semua bentuk iket adalah persegi empat, menjadi segitiga karena dilipat atau
dipotong dari bentuk asli untuk mempermudah pemakaian.
Iket Persegi
(Kotak)
Bentuk ini mempunyai falsafah hidup masagi/sempurna dalam
arti pemikiran, dengan siloka opat kalima pancer atau opat pancer kalima diri
urang. Pancer menunjukkan empat madhab/arah (utara, selatan, timur, barat) dan bahan
yang menjadi dasar kehidupan (tanah, air, angin, api).
Modang
Dalam iket persegi empat terdapat motif persegi empat kecil ditengah yang
selalu berlawanan dengan bentuk iket (diagonal), untuk membedakan dengan kain
lain yang sejenis. Jika iket dilipat jadi segitiga, maka bentuk modang ini akan
lurus (horizontal). Hal ini menunjukkan panceg/konsisten terhadap pandangan
hidup.
Iket Segi Tiga
Sedangkan bentuk segitiga itu sendiri adalah kesamaan
konsep Tritangtu (ratu, rama, resi) yang harus dimaknai secara luas.
Jenis Iket
Awalnya hanya dikenal tujuh bentuk pemakaian. Tapi,
seiring dengan kreatifitas masyarakatnya, rupa iket semakin bervariasi,
antaranya Barangbang Semplak, Parékos Nangka, Parekos Gedang, Koncér/Paitén, Julang
Ngapak, Lohén, Ki Parana, Udeng, Pa Tua, Kolé Nyangsang, Porténg, dll.
Menunjukan
Golongan
Dari rupa iket dapat digolongan, saperti rupa iket:
1.
Barangbang
Semplak (di Cirebon disebut iket mantokan urung ceplakan) biasa dipakai
oleh jawara.
2.
Kuda Ngencar
untuk remaja.
3.
Parékos/Paros
Nangka, Gedang (di Cirebon disebut iket duk liwet) dipakai oleh orang tua
untuk kegiatan ritual.
4.
Porténg
dipakai untuk kegiatan sehari-hari dalam bekerja.
5.
Udeng
dipakai golongan ménak.
Bukan Sekadar Gaya
Iket merupakan warisan budaya yang luhur nilainya, harus
kukuh dipegang sebagai wujud simbolis keutuhan hidup. Begitu juga bagi urang
Sunda sendiri, apakah hanya membanggakan luarnya saja sebagai bentuk
indentitas, atau lebih mementingkan isinya. Menurut Dr. Ir. Thomas NIX, peneliti dari Belanda (Stedebouwin Indonesia
Rotterdam, 1949), leluhur masyarakat Indonesia, hususnya Pulau Jawa, sudah mewariskan
kearifan lokal dalam segala unsur kehidupan.
“ Nu lima diopat keun,
nu opat ditilu keun, nu tilu didua keun, nu dua dihiji keun, nu hiji jadi kasép
“ (yang lima dijadikan empat,
yangempat dijadikan tiga, yang tiga dijadikan dua, yang dua dijadikansatu, yang
satu jadi tampan), kalimat yang diucapkan budayawan Jakob Sumarjo ini, tentunya harus direnungi bagi setiap pemakainya.
Bukan sekedar gaya, tapi harus dipahami makna dibalik lipatannya. Ketika dari
lima menjadi satu, maka individu berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan yang
satu.
Melihat fenomena yang muncul kini, iket semakin tren di
kalangan anak muda. Dengan berbagai motif dan gaya pemakaian. Bisa jadi dilator
belakangi oleh kerinduan terhadap nilai tradisional yang semakin tergerus oleh
modernisasi. Atau hanya sekedar pencitraan identitas tanpa pemaknaan.
Meskipun demikian, harus jadi kebanggaan bersama dengan
diarahkan pertanggung-jawabannya, bahwa mengenal dan memaknai kembali
kebudayaan Sunda tidak harus secara paksa. Tapi, diawali dengan kesadaran
kecintaan melalui iket. Dengan cara itu, iket tidak akan kalah dengan ikat
kepala/syal bergambar grup musik barat.
Iket Buhun (kuno)
Generasi muda saat ini banyak yang gandrung dengan
pemakaian “iket“. Mereka memiliki cara pandang yang berbeda dalam membentuk
“iket”, tetapi tetap memiliki acuan terhadap satu garis penciptaan karya
“buhun” (kuno). Di luar rupa atau penamaannya, iket Sunda sendiri mengandung
nilai makna filosofi yang dikenal dengan sebutan Dulur Opat Kalima Pancer.
Dulur Opat merupakan empat inti kehidupan yaitu api, air, tanah, dan angin. Dan
Kalima Pancer mengandung makna yaitu berpusat pada diri kita sendiri. Secara
garis besar, Dulur Opat Kalima Pancer memiliki arti bahwa empat elemen inti
tersebut terdapat pada diri kita dan berpusat menyatu sebagai perwujudan diri.
Iket Kiwari
(sekarang)
Mengenai iket kiwari yang telah berkembang saat ini,
penamaan dan bentuk tetap berdasar kepada pola rupa iket buhun. Tanpa
mengurangi nilai luhur dari warisan leluhur, begitu pun iket kiwari memiliki
nilai-nilai filosofi di dalamnya. Hal inilah yang menjadi bagian dari
pelestarian budaya yang bersifat kreatif, tetapi tetap memegang teguh nilai
kearifan lokalnya. Terutama di kalangan generasi muda. Mereka memiliki cara
pandang yang berbeda dalam membentuk iket tetapi tetap memiliki acuan terhadap
satu garis penciptaan karya buhun (kuno).
Iket Dalam
Pandangan Islam
Didalam konteks keberagaman, sesungguhnya ada keterkaitan
erat antara nilai-nilai filosofi iket dengan fungsi penutup kepala dalam kaitan
nilai Islam. Fungsi dari iket menurut Islam umumnya adalah bisa digunakan
sebagai sajadah, pengganti tutup kepala. Hal itulah yang membentuk hubungan
antara manusia dan Allah Sang Pencipta yang disebut Hablumminallah. Fungsi sebagai Hablumminanas
adalah iket sebagai penyambung silaturahmi berdasarkan warisan budaya dan iket
sebagai bagian dari cara saling memberi ilmu pengetahuan.
Dalam dunia Islam, dikenal serban atau sorban sebagai
penutup kepala, sebagai bagian dari kelengkapan dalam salat atau beribadah.
Memakai serban bagi umat Muslim adalah sunnah Nabi. Dalam beberapa hadis
riwayat para sahabat Nabi Muhammad SAW, mereka menceritakaan bahwa Nabi selalu
menganjurkan agar memakai penutup kepala sebagai bagian dari kelengkapan
pakaian salat dan bahkan di luar salat.
Iket Cakraningrat
Di tatar nusantara sendiri, kita mengenal Wali Songo.
Dari beberapa sumber sejarah, kesemuanya memakai penutup kepala. Menurut Oom Somara de Uci, sejarawan dari Rajagaluh,
dahulu model rupa iket para wali diadopsi dari rupa iket Cakraningrat yang
merupakan warisan Prabu Cakraningrat yang memiliki kekuasaan kerajaan sekitar
Rajagaluh Majalengka. Iket yang dikemudian hari disebut iket Cakraningrat ini
mengandung nilai filosofi yaitu iket yang melindungi Mustika yaitu Mastaka
(kepala).
Ini bisa bermakna, mustika ini adalah kepala kita yang
memiliki sumber dari sifat dan sikap kita di dunia dari sudut pandang manusia
yang memiliki otak sebagai akal pikiran yang bisa memilih mana yang baik dan
buruk. Bahkan, dalam perkembangan waktu, model iket Cakraningrat ini disebut
pula iket para wali.
Perbedaan iket Cakraningkat ini dengan iket Sunda
lazimnya yaitu terlihat dari model kainnya. Iket Sunda pada umumnya berupa kain
segi empat, sedangkan iket Cakraningrat ini memakai kain persegi panjang
sejenis karembong (selendang). Cara pemakaiannya rata-rata hanya diselipkan,
tidak diiket atau ditali. Cara yang sama seperti pemakaian serban di kepala.
Memang tidak ada sejarah tertulis sebagai bukti yang mendukung tentang iket
Cakranignrat ini, tetapi perbedaannya menjadi bagian dari kekayaan budaya
Sunda.
Iket Dalam Hukum
Pancadharma
1.
Apal jeung hormat ka Purwadaksi Diri (Menyadari
dan menghormat kepada asal usul diri)
2.
Tunduk kana Hukum jeung Aturan (Tunduk akan
hukum dantata tertib/ aturan)
3.
Berilmu (Dilarang Bodoh)
4.
Mengagungkan Sang Hyang Tunggal (Allah SWT)
5.
Berbakti kepada Bangsa dan Negara (Nusantara yang
sesungguhnya, bukan Indonesia hari ini)
Lima Hukum yang menjaga perilaku Bangsa Sunda yang ”dititipkan”
melalui pola Iket Sunda/Totopong, maka Ikat Kepala bukan sekedar Gagayaan belaka.
Wastrana Iket Segi
Empat.
Juru anu opat, ngawakilan dulur 4 ka 5 pancer:
1.
Amarah
2.
Lowamah
3.
Sawiyah
4.
Mutmainnah.
Ari pancerna nya di lambing keun ku Modang segi opat di
tengah na, maksudna diri pribadi sewang-sewangan.
Wastrana Iket Segi
Tilu.
Segi tilu perwujud tina hukum Tritangtu:
1.
Karama’an
2.
Karatuan
3.
Karesian (agama)
Mustika Maskata
Ikét dipasangna dina mastaka, kulantaran dina mastaka aya
mustika (tempat ngolah sagala rupa pamikiran antara hade jeung goring jeung sajabana,
anu tungtungna diputuskeun ku pancér hasil tina urun rembug antara dulur nu
opat.
Ibo Zavasnoz (Iket Sunda Kiwari)
Mari Hapus Penomena Tak Beretika !!!
Pergeseran nilai budaya bangsa ini mengalami kemunduran yang notabene masuknya budaya-budaya asing yang lebih cenderung meng-invasi nilai estetika dan norma adab bangsa ketimuran khususnya Indonesia, ditandai dengan bangganya sebuah generasi muda dalam explorasi nilai budaya asing tanpa membanggakan budaya bangsanya sendiri. Tentunya sangatlah tidak mudah dalam mengembalikan kejayaan budaya tanah leluhur ini bila saja generasi muda tidak lagi peduli terhadap kekayaan budaya serta kearifan lokal yang terkandung disetiap wilayah-wilayah itu sendiri.
Masyarakat pada umumnya saat ini telah memiliki paradigma atau sudut pandang yang seolah "Mengkerdilkan" suatu budaya yang bernilai luhur dengan beranggapan apabila melihat seseorang dengan berpenampilan memakai baju adat (Pangsi) atau Ikat Kepala (iket) mereka akan beranggapan orang tersebut seolah "Dukun" dll ..(sungguh penomena yang tak beretika). Bisa ditarik kesimpulan bahwa anggapan mereka berdasarkan apa yang dilihat mungkin saja dari sebuah cerita piksi film, televisi, cerita majalah dll.
Disinilah peranan penting para sesepuh dan budayawan suatu wilayah yang sejatinya selalu memberikan makna sejarah adat budaya leluhur yang agung kepada generasi muda berikutnya agar terus mencintai budaya-budaya bangsanya sendiri, mari sedikit demi sedikit kita hapus paradigma atau sudut pandang tersebut dengan tetap berpegang teguh kepada jatidiri budaya itu sendiri.
Pergeseran nilai budaya bangsa ini mengalami kemunduran yang notabene masuknya budaya-budaya asing yang lebih cenderung meng-invasi nilai estetika dan norma adab bangsa ketimuran khususnya Indonesia, ditandai dengan bangganya sebuah generasi muda dalam explorasi nilai budaya asing tanpa membanggakan budaya bangsanya sendiri. Tentunya sangatlah tidak mudah dalam mengembalikan kejayaan budaya tanah leluhur ini bila saja generasi muda tidak lagi peduli terhadap kekayaan budaya serta kearifan lokal yang terkandung disetiap wilayah-wilayah itu sendiri.
Masyarakat pada umumnya saat ini telah memiliki paradigma atau sudut pandang yang seolah "Mengkerdilkan" suatu budaya yang bernilai luhur dengan beranggapan apabila melihat seseorang dengan berpenampilan memakai baju adat (Pangsi) atau Ikat Kepala (iket) mereka akan beranggapan orang tersebut seolah "Dukun" dll ..(sungguh penomena yang tak beretika). Bisa ditarik kesimpulan bahwa anggapan mereka berdasarkan apa yang dilihat mungkin saja dari sebuah cerita piksi film, televisi, cerita majalah dll.
Disinilah peranan penting para sesepuh dan budayawan suatu wilayah yang sejatinya selalu memberikan makna sejarah adat budaya leluhur yang agung kepada generasi muda berikutnya agar terus mencintai budaya-budaya bangsanya sendiri, mari sedikit demi sedikit kita hapus paradigma atau sudut pandang tersebut dengan tetap berpegang teguh kepada jatidiri budaya itu sendiri.
*Sudut Pandang:
Tentunya tulisan/rangkuman diatas adalah menggambarkan
banyaknya persepsi sebagai individu atau sebagai masyarakat adat yang berada
ditatar pasundan yang sampai saat ini tetap kukuh mempertahankan adat budaya
leluhur kasundaan itu sendiri. Mungkin saja masih banyak lagi sudut pandang
serta nilai keberagaman lainnya yang itu menjadikan bukti bahwa Sunda adalah
budaya yang luhur dan agung.
*Pelbagai Sumber
